Judul : Gimbal
Pengarang. : Adrian Wenzel
Penerbit. : PO. Gajahdjaja
Tahun terbit : 2012
Tebal. : 316 halaman
Istilah kaum marginal atau yang lebih sering disebut
dengan kaum pinggiran, kaum buangan, sudah tidak asing lagi bagi kita.
Perubahan zaman yang memunculkan peradaban baru, membuat para kaum
pinggiran semakin terpinggirkan. Kata para pakar ekonomi, mereka adalah
korban sistem yang dibuat oleh para penguasa. Para penguasa yang katanya
memperjuangkan nasib rakyat, tapi nyatanya malah menghisap keringat
rakyat. Kepentingan rakyat telah dikalahkan oleh keculasan, kemunafikan,
dan keserakahan. Kaum marginal menjelma dalam beberapa bentuk, mulai
dari pemulung, pengemis, anak-anak jalanan, pengamen, hingga komunitas
vespa ‘gimbal’. Yap, komunitas vespa ‘gimbal’. Tidak semua orang tahu
dan paham tentang komunitas ini.
Komunitas vespa ‘gimbal’ beranggotakan para
Undergrounds, Scooterist, Hip-hopers, Punkers, dan Rappers. Komunitas
yang sering dianggap sebelah mata oleh masyarakat. Katanya hanya bisa
buat onar saja, mencurigakan, dan tak punya masa depan. Apakah persepsi
yang ada di benak masyarakat selama ini benar? Apakah anggota komunitas
vespa ‘gimbal’ selalu kaum ‘buangan’ atau hanya sebagai wujud
solidaritas terhadap mereka yang ‘terbuang’? Lalu, bagaimana sebenarnya
kehidupan yang ada dalam komunitas tersebut? Semua pertanyaan tersebut,
akan terjawab dalam buku karangan Adrian Wenzel, Gimbal (Sebuah Prosa
Liris, Potret Peradaban Baru).
Buku ini menceritakan bagaimana kehidupan kaum-kaum
pinggiran, khususnya anggota komunitas vespa ‘gimbal’. Ada beberapa
tokoh dalam buku ini, dan masing-masing tokoh membawa ceritanya sendiri.
Cerita yang mereka bawa saling berkaitan satu sama lain. Namun ada dua
tokoh yang paling menonjol di dalam buku ini, mereka adalah Aditya dan
Faira. Keduanya merupakan anggota komunitas vespa ‘gimbal’ yang
diceritakan sebagai sepasang kekasih. Di samping cerita Aditya dan
Faira, terdapat cerita tokoh-tokoh lain sebagai pelengkap dan penghubung
cerita mereka berdua.
Berawal dari cerita si Tiwi, seorang gadis kecil,
yatim-piatu sekaligus tuna wisma. Tiwi tinggal bersama seorang lelaki
tua, yang ia sebut ‘mbah kung’ (kakek), meski lelaki itu tidak memiliki
hubungan darah dengannya. Cerita Tiwi ini membawa kita kepada
cerita-cerita tokoh lainnya, seperti cerita ‘mbah kung’, engkong Hoo,
bocah pemulung, sahabat Tiwi, bernama Arip, dan para anggota komunitas
vespa ‘gimbal’, seperti Rianti, Bebe, Bingo, Antok, hingga sampai pada
cerita dua tokoh utama, yakni Aditya dan Faira. Aditya Munahar, akrab
disapa Adit, tinggi tubuh sekitar 170 cm, berhidung mancung, dengan
rambut mengombak dibelah tengah. Adit adalah pendiri sekaligus ketua
komunitas vespa ‘gimbal’. Percaya atau tidak, ia berasal dari keluarga
berada, berpendidikan, dan merupakan mahasiswa semester akhir Fakultas
Kedokteran, itu artinya, Adit adalah calon dokter. Sedangkan kekasihnya,
Faira adalah seorang gadis yang berperasaan lembut, mahasiswi jurusan
seni rupa, dan penggemar karya-karya Mondigliani.
Selain menceritakan kehidupan masing-masing tokohnya,
Adrian Wenzel juga menceritakan tentang suasana Jambore Vespa Gimbal
(JVG) yang digelar setahun sekali oleh komunitas ini. Saat buku ini
dibuat, jambore tersebut digelar di kota Batu, sebuah kota perbukitan
sejuk, dengan awan-awan di atas kepala, di wilayah Jawa Timur. JVG
diikuti oleh seluruh anggota komunitas yang berasal dari Malang,
Jakarta, Denpasar, Lampung, Medan, Banjarmasin, Balikpapan, Makasar,
Manado, Kupang, Sorong, hingga Jayapura. JVG diadakan untuk berkumpul,
sekaligus menentukan siapa ketua baru komunitas mereka. Tak ketinggalan
pula, konvoi keliling kota, yang merupakan acara wajib JVG. Kali ini,
sebanyak 600 vespa gimbal siap merayap, menguasai jalanan, 10 km
jaraknya. Di barisan depan tampak for raiders kepolisian mengawal,
dengan alasan ketertiban, menata arus jalanan.
Meski cerita dalam buku ini disampaikan dalam bentuk
prosa oleh penulisnya, tidak membuat buku ini menjadi ‘berat’ untuk
dibaca. Bahasa yang ringan (bahasa sehari-hari), cerita yang mengalir,
serta beberapa visualisasi, baik dalam bentuk lukisan, maupun
dokumentasi pribadi penulis menjadi ‘kunci’ pemahaman pembaca.
Maksudnya, pembaca dapat mengetahui maksud pesan-pesan tersirat dalam
buku ini lewat berbagai visualisasi tersebut. Kelebihan lain yang
dimiliki buku ini adalah beberapa kritik sosial yang sesekali disinggung
oleh Adrian Wenzel lewat masing-masing cerita tokohnya. Pria kelahiran
Banyuwangi ini juga berhasil ‘menghidupkan’ berbagai hal yang seharusnya
hanya bisa dirasakan, bahkan benda mati sekalipun. Maksudnya, hal-hal
tersebut diberi ‘nyawa’, diceritakan secara detail, untuk
mendefinisikannya, sehingga pembaca mampu merasakan dan memahami
maknanya. Seperti pada bagian “Aku = Keributan”, pria penggemar seni
rupa dan fotografi ini berusaha ‘menghidupkan’ keributan. Keributan
menjadi tokoh penting pada bagian tersebut, sehingga jelaslah yang
dimaksud dengan keributan. Selain keributan, ada pula cinta, konvoi,
warna-warna, kaum getto, dan sebagainya.
Penokohan yang dibuat oleh penulis, tidak sekadar
manusia/orang yang bernama, tapi juga perasaan, kegiatan, bahkan benda
mati. Kekurangan dalam buku ini, terletak pada penggambaran yang sangat
kental tentang seni lukis, meliputi, nama-nama tokoh pelukis, idola
Faira, pembagian era lukisan, dan teknik melukis. Tidak semua orang
paham tentang seni melukis. Jika memang ingin ditonjolkan, sebaiknya
dijelaskan dalam bentuk footnote.
Namun, secara garis besar, buku “Gimbal” ini mampu
membuka pemahaman baru tentang komunitas yang selama ini dianggap urakan
oleh masyarakat. Buku ini juga menampilkan potret lain dari gemerlapnya
kehidupan perkotaan, bisa menjadi referensi yang baik untuk studi
kemanusiaan. Lewat buku ini pula, pembaca akan mampu membedakan antara
komunitas vespa biasa dengan vespa ‘gimbal’.