Kamis, 26 September 2013

cerita anak vespa


Judul : Gimbal
Pengarang. : Adrian Wenzel
Penerbit. : PO. Gajahdjaja
Tahun terbit : 2012
Tebal. : 316 halaman
Istilah kaum marginal atau yang lebih sering disebut dengan kaum pinggiran, kaum buangan, sudah tidak asing lagi bagi kita. Perubahan zaman yang memunculkan peradaban baru, membuat para kaum pinggiran semakin terpinggirkan. Kata para pakar ekonomi, mereka adalah korban sistem yang dibuat oleh para penguasa. Para penguasa yang katanya memperjuangkan nasib rakyat, tapi nyatanya malah menghisap keringat rakyat. Kepentingan rakyat telah dikalahkan oleh keculasan, kemunafikan, dan keserakahan. Kaum marginal menjelma dalam beberapa bentuk, mulai dari pemulung, pengemis, anak-anak jalanan, pengamen, hingga komunitas vespa ‘gimbal’. Yap, komunitas vespa ‘gimbal’. Tidak semua orang tahu dan paham tentang komunitas ini.
Komunitas vespa ‘gimbal’ beranggotakan para Undergrounds, Scooterist, Hip-hopers, Punkers, dan Rappers. Komunitas yang sering dianggap sebelah mata oleh masyarakat. Katanya hanya bisa buat onar saja, mencurigakan, dan tak punya masa depan. Apakah persepsi yang ada di benak masyarakat selama ini benar? Apakah anggota komunitas vespa ‘gimbal’ selalu kaum ‘buangan’ atau hanya sebagai wujud solidaritas terhadap mereka yang ‘terbuang’? Lalu, bagaimana sebenarnya kehidupan yang ada dalam komunitas tersebut? Semua pertanyaan tersebut, akan terjawab dalam buku karangan Adrian Wenzel, Gimbal (Sebuah Prosa Liris, Potret Peradaban Baru).
Buku ini menceritakan bagaimana kehidupan kaum-kaum pinggiran, khususnya anggota komunitas vespa ‘gimbal’. Ada beberapa tokoh dalam buku ini, dan masing-masing tokoh membawa ceritanya sendiri. Cerita yang mereka bawa saling berkaitan satu sama lain. Namun ada dua tokoh yang paling menonjol di dalam buku ini, mereka adalah Aditya dan Faira. Keduanya merupakan anggota komunitas vespa ‘gimbal’ yang diceritakan sebagai sepasang kekasih. Di samping cerita Aditya dan Faira, terdapat cerita tokoh-tokoh lain sebagai pelengkap dan penghubung cerita mereka berdua.
Berawal dari cerita si Tiwi, seorang gadis kecil, yatim-piatu sekaligus tuna wisma. Tiwi tinggal bersama seorang lelaki tua, yang ia sebut ‘mbah kung’ (kakek), meski lelaki itu tidak memiliki hubungan darah dengannya. Cerita Tiwi ini membawa kita kepada cerita-cerita tokoh lainnya, seperti cerita ‘mbah kung’, engkong Hoo, bocah pemulung, sahabat Tiwi, bernama Arip, dan para anggota komunitas vespa ‘gimbal’, seperti Rianti, Bebe, Bingo, Antok, hingga sampai pada cerita dua tokoh utama, yakni Aditya dan Faira. Aditya Munahar, akrab disapa Adit, tinggi tubuh sekitar 170 cm, berhidung mancung, dengan rambut mengombak dibelah tengah. Adit adalah pendiri sekaligus ketua komunitas vespa ‘gimbal’. Percaya atau tidak, ia berasal dari keluarga berada, berpendidikan, dan merupakan mahasiswa semester akhir Fakultas Kedokteran, itu artinya, Adit adalah calon dokter. Sedangkan kekasihnya, Faira adalah seorang gadis yang berperasaan lembut, mahasiswi jurusan seni rupa, dan penggemar karya-karya Mondigliani.
Selain menceritakan kehidupan masing-masing tokohnya, Adrian Wenzel juga menceritakan tentang suasana Jambore Vespa Gimbal (JVG) yang digelar setahun sekali oleh komunitas ini. Saat buku ini dibuat, jambore tersebut digelar di kota Batu, sebuah kota perbukitan sejuk, dengan awan-awan di atas kepala, di wilayah Jawa Timur. JVG diikuti oleh seluruh anggota komunitas yang berasal dari Malang, Jakarta, Denpasar, Lampung, Medan, Banjarmasin, Balikpapan, Makasar, Manado, Kupang, Sorong, hingga Jayapura. JVG diadakan untuk berkumpul, sekaligus menentukan siapa ketua baru komunitas mereka. Tak ketinggalan pula, konvoi keliling kota, yang merupakan acara wajib JVG. Kali ini, sebanyak 600 vespa gimbal siap merayap, menguasai jalanan, 10 km jaraknya. Di barisan depan tampak for raiders kepolisian mengawal, dengan alasan ketertiban, menata arus jalanan.
Meski cerita dalam buku ini disampaikan dalam bentuk prosa oleh penulisnya, tidak membuat buku ini menjadi ‘berat’ untuk dibaca. Bahasa yang ringan (bahasa sehari-hari), cerita yang mengalir, serta beberapa visualisasi, baik dalam bentuk lukisan, maupun dokumentasi pribadi penulis menjadi ‘kunci’ pemahaman pembaca. Maksudnya, pembaca dapat mengetahui maksud pesan-pesan tersirat dalam buku ini lewat berbagai visualisasi tersebut. Kelebihan lain yang dimiliki buku ini adalah beberapa kritik sosial yang sesekali disinggung oleh Adrian Wenzel lewat masing-masing cerita tokohnya. Pria kelahiran Banyuwangi ini juga berhasil ‘menghidupkan’ berbagai hal yang seharusnya hanya bisa dirasakan, bahkan benda mati sekalipun. Maksudnya, hal-hal tersebut diberi ‘nyawa’, diceritakan secara detail, untuk mendefinisikannya, sehingga pembaca mampu merasakan dan memahami maknanya. Seperti pada bagian “Aku = Keributan”, pria penggemar seni rupa dan fotografi ini berusaha ‘menghidupkan’ keributan. Keributan menjadi tokoh penting pada bagian tersebut, sehingga jelaslah yang dimaksud dengan keributan. Selain keributan, ada pula cinta, konvoi, warna-warna, kaum getto, dan sebagainya.
Penokohan yang dibuat oleh penulis, tidak sekadar manusia/orang yang bernama, tapi juga perasaan, kegiatan, bahkan benda mati. Kekurangan dalam buku ini, terletak pada penggambaran yang sangat kental tentang seni lukis, meliputi, nama-nama tokoh pelukis, idola Faira, pembagian era lukisan, dan teknik melukis. Tidak semua orang paham tentang seni melukis. Jika memang ingin ditonjolkan, sebaiknya dijelaskan dalam bentuk footnote.
Namun, secara garis besar, buku “Gimbal” ini mampu membuka pemahaman baru tentang komunitas yang selama ini dianggap urakan oleh masyarakat. Buku ini juga menampilkan potret lain dari gemerlapnya kehidupan perkotaan, bisa menjadi referensi yang baik untuk studi kemanusiaan. Lewat buku ini pula, pembaca akan mampu membedakan antara komunitas vespa biasa dengan vespa ‘gimbal’.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar